Data Science and Machine Learning di Purwadhika

Data Science and Machine Learning di Purwadhika

Pada 6 Mei 2026, saya memulai perjalanan mengikuti bootcamp Data Science and Machine Learning di Purwadhika. Hampir enam bulan kemudian, pada 22 Oktober 2026, perjalanan pembelajaran ini mencapai tahap sidang final project.

Data Science dan Machine Learning

Saya mengambil kelas Online Livestream After Hour, yang dilaksanakan secara daring pada malam hari. Pilihan ini memungkinkan saya tetap bekerja sebagai data analis sekaligus memperdalam kemampuan di bidang data science dan machine learning.

Menjalaninya tentu memiliki tantangan tersendiri. Setelah menyelesaikan pekerjaan pada siang hari, saya harus kembali menyiapkan energi dan konsentrasi untuk mengikuti kelas, mengerjakan latihan, serta menyelesaikan proyek. Ada malam ketika tubuh sudah lelah, sementara materi yang dipelajari masih membutuhkan perhatian penuh.

Capek dan lelah menjadi bagian yang wajar dalam proses ini. Namun, saya berusaha menjaga semangat dan konsisten hadir hingga akhir. Bagi saya, bootcamp ini sekaligus menjadi latihan mengatur waktu, menjaga komitmen, dan membangun kebiasaan belajar di tengah tanggung jawab pekerjaan.

Pembelajaran terbagi menjadi tiga modul utama: Programming Fundamental, Data Analysis, dan Machine Learning. Setiap modul dilengkapi evaluasi serta capstone project untuk menerapkan materi pada suatu permasalahan.

Modul 1 — Programming Fundamental: Membangun Dasar Logika Pemrograman

Pembelajaran dimulai pada 6 Mei 2026 dengan materi Introduction to Data Science, Computer & Programming. Pada sesi awal ini, mentor menjelaskan pengertian data science, ruang lingkup pekerjaannya, serta perannya dalam membantu organisasi memahami data dan mengambil keputusan.

Dari pengenalan tersebut, kami mulai masuk ke dasar pemrograman menggunakan Python. Materinya mencakup variabel, tipe data, input pengguna, dan conditional statements. Melalui percabangan seperti if, elif, dan else, saya belajar menerjemahkan suatu kondisi menjadi aturan yang dapat dijalankan oleh program.

Berikutnya, kami mempelajari looping statements atau perulangan. Konsep ini membantu menjalankan pekerjaan berulang secara otomatis. Sebagai contoh, for loop dapat digunakan untuk memeriksa setiap elemen data tanpa harus menuliskan instruksi yang sama berkali-kali. Ketika dikombinasikan dengan percabangan, program dapat memeriksa kondisi sekaligus menjalankan tindakan yang sesuai.

Kami juga mempelajari collection data types, seperti list, tuple, dictionary, dan set. Pada tahap ini, saya mulai memahami cara menyimpan sekumpulan data serta melakukan proses menambahkan, menampilkan, mengubah, dan menghapus data.

Materi selanjutnya adalah Python functions. Dengan fungsi, suatu proses dapat disusun menjadi bagian kode yang bisa digunakan kembali. Saya cukup memanggil fungsi tersebut ketika dibutuhkan, sehingga kode menjadi lebih terstruktur dan lebih mudah diperbaiki.

Capstone Project 1: Kalkulator Panen Udang

Setelah mengikuti pembelajaran dan evaluasi, saya membuat capstone project pertama berupa Kalkulator Panen Udang sederhana.

Saya memilih topik yang dekat dengan latar belakang dan pekerjaan saya di bidang akuakultur. Melalui proyek ini, konsep dasar Python mulai terasa lebih konkret karena digunakan untuk mengelola data panen dan membantu perhitungan usaha budidaya.

Proyek tersebut menjadi langkah awal saya dalam menghubungkan logika pemrograman dengan kebutuhan operasional yang saya pahami.

Baca selengkapnya: Aplikasi Python Sederhana: Kalkulator Panen Udang.

Modul 2 — Data Analysis: Mengolah Data hingga Menjadi Informasi

Modul kedua dimulai pada 20 Mei 2026 dengan pengenalan SQL. Pada tahap ini, pembelajaran berkembang dari membuat program menjadi mengambil, mengelola, dan menganalisis data.

SQL merupakan bahasa untuk berinteraksi dengan basis data relasional. Kami mempelajari penggunaannya melalui MySQL yang diinstal secara lokal, mulai dari membuat tabel, mengatur kolom, menambahkan dan memperbarui data, hingga menampilkan data sesuai kebutuhan.

Kami juga belajar melakukan agregasi, seperti menghitung jumlah observasi, menjumlahkan nilai, dan mencari rata-rata. Dengan JOIN, data dari beberapa tabel dapat dihubungkan berdasarkan kolom yang sesuai untuk membentuk dataset analisis.

Selain MySQL, kami diperkenalkan dengan Google BigQuery. Pengalaman ini membantu saya memahami pengolahan data di lingkungan cloud serta integrasinya dengan layanan lain, seperti Google Colab dan Looker Studio.

Python untuk Analisis Data

Setelah SQL, pembelajaran berlanjut ke Python for Data Analysis. Jika pada modul pertama Python digunakan untuk membangun dasar pemrograman, pada tahap ini penggunaannya lebih terarah pada pengolahan dan analisis data melalui notebook.

Kami menggunakan berbagai lingkungan kerja, seperti Jupyter Notebook, Google Colab, dan Visual Studio Code. Jupyter menjadi salah satu lingkungan yang sering saya gunakan karena memudahkan saya menjalankan kode secara bertahap sekaligus memeriksa hasilnya.

Kami mempelajari pandas untuk mengelola data berbentuk tabel, NumPy untuk operasi numerik, serta Matplotlib untuk visualisasi. Dari sini, saya mulai membangun alur kerja yang lebih terstruktur: membaca data, memeriksa isinya, membersihkan data, lalu mengolahnya untuk menjawab pertanyaan analisis.

Statistik sebagai Dasar Pengambilan Keputusan

Analisis data kemudian diperkuat melalui pembelajaran statistik. Kami membahas proses pengumpulan data, sampling, serta pemeriksaan kualitas data, termasuk missing value, ketidakkonsistenan kategori, outlier, dan anomali.

Saya semakin memahami bahwa kualitas analisis sangat dipengaruhi oleh kualitas data dan ketepatan metode yang digunakan. Angka yang terlihat menarik belum tentu cukup untuk mendukung suatu kesimpulan.

Dalam statistik deskriptif, kami belajar merangkum karakteristik data melalui ukuran pemusatan, penyebaran, dan visualisasi. Kami juga mempelajari kapan sebaiknya menggunakan bar chart, line chart, boxplot, atau grafik lainnya agar informasi mudah dipahami oleh audiens.

Pada statistik inferensial, kami mempelajari pengujian hipotesis serta asumsi yang perlu diperhatikan, seperti distribusi dan homogenitas varians. Beberapa metode yang dipelajari meliputi uji t, ANOVA, ANCOVA, Kruskal–Wallis, dan Chi-square.

Pembelajaran ini membantu saya membedakan antara perbedaan yang terlihat secara deskriptif dan perbedaan yang didukung oleh pengujian statistik. Saya juga belajar bahwa kesimpulan harus disesuaikan dengan desain penelitian dan karakteristik data yang tersedia.

Visualisasi, Dashboard, dan Storytelling

Setelah mempelajari statistik, kami memperdalam visualisasi menggunakan Python. Kami belajar mengatur jenis grafik, warna, label, serta tata letak agar hasil analisis lebih jelas dan nyaman dibaca.

Materi kemudian berlanjut ke storytelling with data dan presentasi. Pada tahap ini, tantangannya adalah menyusun penjelasan yang membantu audiens memahami masalah, temuan, dan implikasinya.

Kami juga mempelajari pembuatan dashboard menggunakan Looker Studio dan Tableau. Dashboard menjadi sarana untuk menyajikan indikator dan hasil analisis agar lebih mudah dipantau serta dieksplorasi.

ETL: Menyiapkan Data sebelum Dianalisis

Materi penutup modul kedua adalah ETL, yaitu Extract, Transform, dan Load.

Kami belajar mengambil data dari sumbernya, membersihkan dan mengubahnya sesuai kebutuhan, lalu memuat hasilnya ke penyimpanan tujuan. Dalam praktik pembelajaran, Google Colab digunakan untuk membantu pengolahan data, sedangkan BigQuery menjadi tempat penyimpanan hasil pengolahan yang kemudian dapat digunakan untuk analisis dan dashboard.

Prinsip garbage in, garbage out menjadi pengingat penting. Jika data yang masuk tidak diperiksa dengan baik, hasil analisis juga berisiko menyesatkan.

Saya mulai melihat bahwa pekerjaan data analis mencakup proses yang panjang sebelum grafik dan kesimpulan dihasilkan. Menyiapkan data yang konsisten, relevan, dan dapat dipercaya merupakan bagian penting dari pekerjaan tersebut.

Capstone Project 2: Revenue Leakage & Billing Control Tower Analysis

Setelah mengikuti evaluasi modul kedua, saya mengerjakan Revenue Leakage & Billing Control Tower Analysis.

Proyek ini menggunakan kasus fiktif dengan data simulasi sebagai latihan membangun alur analisis dari pemahaman masalah bisnis, proses ETL, hingga penyajian dashboard.

Melalui proyek ini, saya berlatih menghubungkan pengolahan data dengan kebutuhan pemantauan tagihan, tunggakan, dan potensi kebocoran pendapatan. Pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana keterampilan analisis dapat diterapkan pada konteks bisnis di luar bidang pekerjaan saya sehari-hari.

Baca selengkapnya: Dari ETL hingga Dashboard: Proses Analisis Revenue Leakage & Billing Control Tower.

Modul 3 — Machine Learning: Menghubungkan Prediksi dengan Kebutuhan Bisnis

Pembelajaran machine learning dimulai pada 13 Juli 2026. Kami diperkenalkan pada konsep dasar, jenis permasalahan yang dapat ditangani, serta alasan penggunaan machine learning.

Salah satu pelajaran yang paling saya ingat adalah pentingnya memilih pendekatan berdasarkan kebutuhan. Tidak semua masalah memerlukan machine learning. Dalam beberapa situasi, analisis deskriptif, pengujian statistik, atau aturan bisnis yang sederhana sudah dapat memberikan jawaban yang memadai.

Pemahaman ini membantu saya lebih berhati-hati dalam menentukan metode. Tujuan analisis dan kebutuhan pengguna perlu dipahami sebelum memilih algoritma.

Memahami Supervised dan Unsupervised Learning

Kami mempelajari dua kelompok utama machine learning, yaitu supervised learning dan unsupervised learning.

Pada supervised learning, model belajar dari data yang memiliki target. Target tersebut dapat berupa nilai numerik untuk regresi atau kategori untuk klasifikasi. Klasifikasi juga dapat melibatkan dua kelas maupun lebih dari dua kelas.

Sementara itu, unsupervised learning digunakan untuk mengeksplorasi pola atau struktur dalam data tanpa target berlabel.

Pada supervised learning, kami mempelajari berbagai algoritma, seperti Linear Regression, Logistic Regression, dan Random Forest. Setiap algoritma memiliki karakteristik dan keterbatasan yang perlu dipertimbangkan sesuai data serta tujuan penggunaannya.

Data Preparation dan Feature Engineering

Tahap berikutnya adalah data preparation dan feature engineering. Kami memeriksa kualitas data, melakukan Exploratory Data Analysis atau EDA, serta mengeksplorasi hubungan antarvariabel melalui boxplot, scatter plot, dan heatmap korelasi.

Kami juga belajar membuat fitur baru yang relevan dengan permasalahan. Proses ini menuntut pemahaman konteks, karena sebuah fitur perlu memiliki makna yang masuk akal bagi tujuan analisis.

Dalam pemodelan, kami mempelajari penggunaan pipeline untuk menyatukan preprocessing dan algoritma. Prosesnya dapat mencakup imputasi missing value, encoding fitur kategorikal, serta scaling pada fitur numerik sesuai kebutuhan model.

Hal penting dalam alur ini adalah memisahkan data latih dan data uji sebelum mempelajari parameter preprocessing. Dengan demikian, informasi dari data uji tidak ikut digunakan untuk melatih model dan menimbulkan data leakage.

Evaluasi Model dan Hyperparameter Tuning

Kami kemudian mempelajari generalization, overfitting, dan underfitting. Model perlu dievaluasi untuk mengetahui kemampuannya mempelajari pola yang dapat digunakan pada data baru.

Performa pada data latih perlu dibandingkan dengan hasil validasi. Pemilihan model dan hyperparameter tuning dilakukan menggunakan data latih serta proses validasi, sedangkan data uji digunakan untuk menilai performa akhir setelah keputusan pemodelan ditetapkan.

Melalui proses ini, saya memahami bahwa pemilihan model memerlukan evaluasi yang terukur. Model yang lebih kompleks belum tentu memberikan hasil yang lebih sesuai dengan kebutuhan.

Machine Learning for Business

Materi Machine Learning for Business memperluas cara saya menilai suatu model. Evaluasi mencakup dampak operasional dan biaya dari keputusan yang dihasilkan.

Setiap kesalahan prediksi dapat memiliki konsekuensi yang berbeda. Karena itu, pemilihan metrik perlu mempertimbangkan tujuan bisnis, biaya kesalahan, serta kapasitas tim yang akan menggunakan hasil prediksi.

Kami juga membandingkan skenario penggunaan model dengan skenario tanpa model. Dari sini, saya belajar menerjemahkan performa teknis menjadi pertimbangan bisnis yang lebih konkret, termasuk potensi penghematan biaya dan pemanfaatan sumber daya.

End-to-End Machine Learning dan Deployment

Pada bagian akhir, kami mempelajari alur machine learning secara menyeluruh dan menerapkan model melalui Streamlit.

Tahap ini memperlihatkan bagaimana hasil pemodelan dapat disajikan melalui aplikasi yang lebih mudah digunakan. Pengguna dapat memasukkan data dan melihat hasil prediksi tanpa harus menjalankan kode secara langsung.

Bagi saya, deployment menjadi penghubung antara pekerjaan analisis dan penggunaan model dalam suatu alur kerja.

Capstone Project 3: Bank Marketing Campaign

Setelah mengikuti evaluasi modul ketiga, termasuk ujian Perceptual Logic, saya mengerjakan capstone project Bank Marketing Campaign.

Proyek ini berfokus pada prediksi nasabah yang berpotensi membuka deposito untuk membantu penyusunan prioritas campaign. Saya menerapkan tahapan pembelajaran mulai dari memahami masalah bisnis, menyiapkan data, membangun dan mengevaluasi model, hingga menyajikannya melalui aplikasi.

Proyek ini juga melatih saya mempertimbangkan dampak false positive dan false negative terhadap biaya campaign serta peluang nasabah potensial yang terlewat.

Baca selengkapnya: Prediksi Nasabah Potensial Deposito dengan Machine Learning.

Perjalanan Bootcamp

Final Project — Olist Seller Churn bersama Tim Alpha

Setelah menyelesaikan tiga modul beserta evaluasinya, kami mengikuti proses seleksi untuk masuk ke tahap final project. Peserta kemudian dibagi menjadi tiga tim: Alpha, Beta, dan Gamma.

Saya bergabung dalam Tim Alpha bersama Rifdah Octavi Azzahra dan Dzakwan Taufiq Nur Muhammad. Kami mengangkat topik Seller Churn pada marketplace Olist untuk membantu mengidentifikasi seller berisiko dan mendukung penentuan prioritas campaign retensi.

Keberlanjutan aktivitas seller merupakan bagian penting dalam bisnis marketplace. Berkurangnya seller aktif dapat memengaruhi variasi produk, volume transaksi, dan potensi pendapatan platform. Konteks tersebut menjadi dasar bagi kami dalam merumuskan tujuan proyek.

Selama pengerjaan, kami berkoordinasi dua kali dalam seminggu dan menjalani empat sesi konsultasi bersama mentor, masing-masing satu kali setiap minggu. Diskusi tersebut menjadi kesempatan untuk meninjau perkembangan, mengevaluasi pendekatan, dan memperbaiki bagian yang masih perlu diperkuat.

Final project menjadi tempat kami menggabungkan pembelajaran dari ketiga modul: memahami permasalahan bisnis, mengolah data, melakukan analisis, membangun model, serta menyampaikan hasil dan rekomendasi.

Pengerjaan secara tim juga memberikan pengalaman dalam membagi tanggung jawab, menyelaraskan pemahaman, dan menjelaskan alasan di balik setiap keputusan analisis.

Pada 22 Oktober 2026, kami mengikuti sidang final project sebagai tahapan akhir dari rangkaian pembelajaran bootcamp ini.

Baca selengkapnya: Dari Data Menjadi Solusi Bisnis: Proyek Olist Seller Churn.

Sebagai seorang magister perikanan yang bekerja sebagai data analis, mendalami data science memberikan tantangan tersendiri. Saya perlu memperkuat kemampuan pemrograman, statistik, dan pemodelan, sekaligus membiasakan diri dengan cara kerja serta perangkat yang baru.

Namun, latar belakang perikanan juga memberikan bekal yang berharga. Pengalaman di bidang akuakultur membantu saya memahami konteks data, kebutuhan operasional, dan pertanyaan yang relevan bagi pengguna hasil analisis.

Selama bootcamp, saya semakin memahami pentingnya domain knowledge atau pengetahuan bidang. Kemampuan teknis perlu berjalan bersama pemahaman terhadap proses bisnis agar analisis dan model yang dibuat dapat digunakan secara tepat.

Perjalanan dari kelas pertama pada 6 Mei hingga sidang final project pada 22 Oktober 2026 menjadi pengalaman belajar yang berarti bagi saya. Ada materi yang harus dipelajari berulang kali, kode yang perlu diperbaiki, serta waktu istirahat yang harus diatur kembali agar pekerjaan dan pembelajaran tetap berjalan.

Menyelesaikan bootcamp ini memberi saya fondasi untuk terus berkembang. Saya ingin membawa pembelajaran tersebut ke pekerjaan sehari-hari dan mengembangkan penerapan data science dalam akuakultur—mulai dari meningkatkan kualitas data, mengevaluasi performa budidaya, hingga membangun alat bantu keputusan yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan.